Tangguh & Elegan – 5 Bek Modern yang Layak Sabet Ballon d’Or

359

Pemain belakang alias bek seringkali dipandang sebelah mata saat adanya penghargaan individu, seperti Ballon d’Or. Padahal, ini tak adil lantaran bek sebenarnya adalah tulang punggung sebuah tim.

Publik sepak bola belakangan memang mulai menyadari betapa pentingnya bek dalam permainan. Bahkan, para bek kini bukan cuma jadi pemain bertahan saja, mereka acap menentukan saat maju dalam eksekusi bola mati.

Banyak pemain belakang, bahkan sering jadi penentu kemenangan bagi timnya. Mereka tidak hanya membentangi gawang dari kebobolan, melainkan juga ikut membantu mencetak gol ke gawang lawan.

Nah, oleh karena itu ada lima bek yang dipercaya pantas dapatkan Ballon d’Or atas kinerjanya. Siapa saja? Berikut daftarnya dikutip¬†Sportskeeda!


1. Leonardo Bonucci (AC Milan)

Leonardo Bonucci telah menjadi salah satu bek tengah terbaik di dunia dalam beberapa musim terakhir. Dia membantu Juventus memenangkan 6 gelar Serie A dan mencapai 2 final Liga Champions sekaligus memimpin lini belakang dengan gayanya.

Sebagai fakta, ia rata-rata melalukan 67 umpan dengan tingkat keberhasilan 88% di liga Italia musim lalu. Pada periode saat Claudio Marchisio cedera dan Pjanic belum tiba, dia-lah yang mengambil alih dan mendalangi permainan Juve dari belakang.

Kepentingannya dalam sistem Antonio Conte di Euro 2016 sangat terlihat. Sebelum menyelesaikan kepindahannya ke AC Milan, Bonucci telah memainkan peran penting di Juventus, ia menyelesaikan musim dengan 4 gol dan 8 assist.


2. Marcelo (Real Madrid)

Marcelo boleh dibilang merupakan bek kiri terbaik yang ada di dunia. Musim terbaiknya tercipta di tahun 2016/2017, di mana dia berperan penting dalam usaha Real Madrid untuk merebut liga Spanyol dan Liga Champions.

Pada musim tersebut dia sangat menonjol, terutama menjelang paruh kedua. Melawan FC Bayern di perempatfinal, bek berusia 29 tahun itu menampilkan salah satu pertunjukan terbaik, saat ia bikin frustrasi bintang Belanda Arjen Robben di Santiago Bernabeu, sambil memberikan dukungan menyerang kepada rekan setimnya.

Cristiano Ronaldo mungkin mencetak hat-trick kala itu, tapi andai tak ada Marcelo, raksasa Spanyol itu mungkin bahkan tidak berhasil mencapai semifinal, apalagi meraih gelar juara. Marcelo mengakhiri musim itu dengan 2 gol dan 13 assist, yang secara efektif menyoroti musim brilian yang dimilikinya.


3. Dani Alves (PSG)

Sama seperti Philipp Lahm, Dani Alves adalah salah satu bek kanan terbesar dalam sejarah. Dia baru saja keluar dari musim terbaiknya di Juventus. Bersama Alves mereka sangat berpotensi besar, berkat mental kemenangannya di ruang ganti, pengalaman, dan kemampuan teknis.

Gabung Paris Saint-Germain tidak berarti menurunkan kemampuan Dani Alves. Hal itu terbukti dengan gol debutnya di Piala Liga serta satu golnya ke gawang Bayern Munchen di ajang Liga Champions.


4. Sergio Ramos (Real Madrid)

Pertanyaan yang selalu terlontar tentang seorang bek yang pantas memenangkan Ballon d’Or, Sergio Ramos pasti akan terlintas dalam pikiran Anda. Dalam 3 tahun terakhir, sulit untuk membantah bahwa ada satu bek di planet bumi ini yang lebih layak mendapatkan penghargaan tersebut dibanding kapten Real Madrid itu.

Bek berusia 31 tahun itu tidak hanya lihai dalam bertahan, namun ia juga membawa pengaruh secara keseluruhan di lapangan. Ramos boleh dianggap sama pentingnya dengan pemain Madrid lainnya di ketiga edisi Liga Champions kala raksasa Spanyol itu menang pada 2014 dan 2017.

Sayangnya, semua prestasi ini tidak mungkin dapat penghargaan pada 2017. Hal itu karena Cristiano Ronaldo, Lionel Messi dan Neymar diperkirakan akan mendominasi tiga posisi nominasi Ballon d’Or.


5. Philipp Lahm

Philipp Lahm memang sudah pensiun pada akhir musim 2016/2017. Namun ia tetap dianggap sebagai pemain paling konsisten yang telah kita saksikan di era modern sekarang ini.

Ada alasan mengapa Pep Guardiola menggambarkan bek berusia 33 tahun itu sebagai pemain paling cerdas yang pernah dia tangani. Sebuah pujian yang menarik dari salah satu pelatih yang paling terkemuka di dunia.

Lahm telah menjadi tokoh kunci bagi raksasa Bundesliga, Bayern Muenchen dalam 12 tahun terakhir, kala mendominasi kompetisi lokal. Setelah kehilangan dua dari tiga final sebelumnya melawan Internazionale dan Chelsea pada 2010 dan 2012, The Bavarians akhirnya mampu merebut gelar Liga Champions setelah mengalahkan Borussia Dortmund 2-1 di final 2013.

Setelah mengalami gangguan serius dengan tim nasional Jerman di antara tahun 2006 dan 2012, sang katen akhirnya mendapat penghargaan pada tahun 2014. Ini saat ia memenangi Piala Dunia dan membawa akhir yang indah untuk karier internasionalnya.

Comments

comments

NO COMMENTS